Sukses

Lifestyle

Memahami Avoidant Attachment, Ketika Jarak Emosional Menjadi Pilihan

Fimela.com, Jakarta Dilansir dari medicalnewstoday.com, avoidant attachment adalah salah satu dari tiga gaya keterikatan yang pertama kali dikembangkan oleh Mary Ainsworth dan Barbara Wittig pada tahun 1970 melalui eksperimen yang dikenal dengan istilah "strange situation procedure". Dalam penelitian ini, Ainsworth mengamati respons anak-anak terhadap kepergian dan kembalinya orang tua atau pengasuh mereka, yang memberikan gambaran awal tentang bagaimana individu membentuk ikatan emosional sejak masa kanak-kanak. Anak-anak dengan gaya keterikatan avoidant cenderung mengembangkan pola hubungan yang lebih mandiri dan menghindari kelekatan emosional yang mendalam, sering kali sebagai mekanisme perlindungan diri akibat ketidakpastian atau ketidakpekaan orang tua terhadap kebutuhan emosional mereka.

Pada tahun 1990, Mary Main dan Judith Solomon memperluas teori ini dengan menambahkan gaya keterikatan keempat, yaitu keterikatan disorganisasi, yang menggambarkan anak-anak yang mengalami kebingungannya sendiri dalam merespons kebutuhan emosional akibat ketidakkonsistenan dalam interaksi dengan pengasuh mereka. Penambahan gaya keterikatan keempat ini memperkaya pemahaman kita tentang kompleksitas hubungan orang tua-anak dan dampaknya terhadap perkembangan psikologis anak.

Secara keseluruhan, teori keterikatan menawarkan wawasan yang lebih dalam tentang bagaimana pola keterikatan yang terbentuk pada masa kanak-kanak dapat memengaruhi interaksi sosial dan hubungan interpersonal sepanjang hidup seseorang. Gaya keterikatan seperti avoidant attachment, yang berkembang dalam konteks kurangnya respons emosional yang sensitif dari pengasuh, dapat berpengaruh besar terhadap cara seseorang membangun hubungan dewasa dan mengelola rasa intimasi serta kepercayaan.

Keempat gaya keterikatan tersebut yaitu:

1. Aman

Keterikatan aman berkembang pada anak-anak yang memiliki orang tua atau pengasuh yang sensitif dan responsif terhadap kebutuhan mereka. Anak-anak dengan keterikatan aman memiliki kepercayaan bahwa orang tua atau pengasuh akan tersedia untuk memenuhi kebutuhan mereka dan memberikan kenyamanan ketika mereka sedang tertekan.

2. Avoidant atau Insecure-avoidant

Keterikatan avoidant berkembang pada anak-anak yang tidak menerima respons yang sensitif dari orang tua atau pengasuh terhadap kebutuhan atau perasaan tertekan mereka. Anak-anak dengan keterikatan avoidant mungkin menjadi sangat mandiri, baik secara fisik maupun emosional.

3. Cemas atau Insecure-anxious

Anak-anak dengan keterikatan cemas tidak menerima respons yang konsisten terhadap kebutuhan mereka dari orang tua atau pengasuh. Anak-anak dengan keterikatan cemas mungkin menjadi cemas dan bergantung pada pengasuh mereka, tetapi merasa tidak aman baik terhadap diri mereka sendiri maupun dalam interaksi dengan orang lain.

4. Disorganisasi atau Fearful

Keterikatan disorganisasi terjadi ketika seorang anak menginginkan cinta dan perhatian dari orang tua atau pengasuh, tetapi juga merasa takut terhadap mereka. Keterikatan disorganisasi bisa berkembang jika orang tua atau pengasuh merespons permintaan kenyamanan anak dengan mengabaikan, berteriak, atau menghukum mereka dengan cara tertentu.

 

Prosedur Strange Situation

Pada tahun 1970-an, Mary Ainsworth melakukan sebuah eksperimen yang disebut "prosedur strange situation". Dalam eksperimen ini, orang tua atau pengasuh meninggalkan ruangan sementara anak mereka bermain dengan pengamat yang terlatih di dekatnya. Para peneliti mengamati dan mendokumentasikan respons anak terhadap kepergian orang tua atau pengasuh mereka.

Anak-anak dengan gaya keterikatan aman akan menangis ketika orang tua atau pengasuh mereka meninggalkan ruangan, tetapi akan segera mendekat kepada mereka dan merasa tenang saat mereka kembali. Anak-anak dengan gaya keterikatan avoidant akan tetap tenang ketika orang tua atau pengasuh mereka meninggalkan ruangan. Begitu orang tua atau pengasuh kembali, anak tersebut akan menghindari atau menolak kontak dengan mereka.

Namun, meskipun ada reaksi yang terlihat, tes psikologis lainnya menunjukkan bahwa anak-anak dengan keterikatan avoidant merasa tertekan oleh ketidakhadiran orang tua atau pengasuh mereka sama seperti anak-anak lainnya.

Penyebab

Bayi dan anak-anak umumnya membutuhkan untuk membentuk ikatan yang erat dengan orang tua atau pengasuh mereka. Penolakan berulang terhadap upaya untuk membentuk keterikatan yang aman ini dapat menyebabkan seorang anak belajar untuk menekan keinginan mereka akan kenyamanan saat merasa tertekan atau kesal.

Keterikatan avoidant berkembang ketika bayi atau anak kecil memiliki orang tua atau pengasuh yang secara konsisten tidak tersedia secara emosional atau tidak responsif terhadap kebutuhan mereka. Bayi dengan gaya keterikatan avoidant juga mungkin pernah mengalami penolakan berulang untuk menangis atau mengekspresikan emosi mereka secara terbuka.

Orang tua atau pengasuh dari anak yang memiliki keterikatan avoidant mungkin:

  • Kurang pengetahuan tentang cara mendukung anak mereka
  • Kurang empati
  • Merasa kewalahan dengan tanggung jawab sebagai orang tua
  • Tidak memiliki rasa komitmen yang kuat
  • Memiliki gaya keterikatan avoidant mereka sendiri

Anak-anak dengan keterikatan avoidant juga mungkin terputus dari kebutuhan dan perasaan mereka sendiri. Anak-anak ini mungkin belajar untuk menenangkan diri mereka sendiri dan merasa seolah-olah mereka hanya dapat mengandalkan diri mereka sendiri. Akibatnya, mereka memiliki sedikit motivasi atau kepercayaan untuk mencari bantuan atau dukungan dari orang lain.

Tanda dan Gejala

Seorang anak dengan gaya keterikatan avoidant mungkin tidak menunjukkan tanda-tanda keinginan untuk kedekatan, kasih sayang, atau cinta secara terang-terangan. Namun, secara internal, anak tersebut akan merasakan stres dan respons kecemasan yang sama seperti anak dengan keterikatan aman ketika mereka berada dalam situasi yang menegangkan. Anak-anak ini juga mungkin ingin dekat dengan pengasuh utama mereka, tetapi tidak berinteraksi dengan mereka. Mereka juga mungkin menolak kontak fisik dengan pengasuh mereka.

Gaya keterikatan dan perilaku terkaitnya dapat bertahan hingga dewasa. Sebagai orang dewasa, seseorang dengan gaya keterikatan avoidant mungkin mengalami hal-hal berikut:

  • Menghindari kedekatan emosional dalam hubungan
  • Merasa seolah-olah pasangan mereka menjadi terlalu bergantung saat mereka hanya ingin lebih dekat secara emosional
  • Menarik diri dan mengatasi situasi sulit sendirian
  • Menekan emosi
  • Menghindari mengeluh, lebih suka mendengus atau memberi petunjuk tentang apa yang salah
  • Menekan kenangan negatif
  • Menarik diri atau mengabaikan, percakapan atau pemandangan yang tidak menyenangkan
  • Takut akan penolakan
  • Memiliki rasa mandiri yang kuat
  • Memiliki perasaan harga diri yang tinggi sambil memandang orang lain secara negatif
  • Terlalu fokus pada kebutuhan dan kenyamanan diri sendiri

Keterikatan avoidant juga dapat memengaruhi orang dewasa yang lebih tua. Sebuah studi dari Hong Kong menemukan bahwa pada pasangan suami istri yang lebih tua, pasangan pria dengan gaya keterikatan avoidant mengalami dampak yang lebih merugikan terhadap kesejahteraan mereka dibandingkan pasangan wanita.

Pencegahan

Orang tua atau pengasuh dapat mencegah anak mereka mengembangkan gaya keterikatan avoidant dengan peka terhadap kebutuhan dan perasaan anak serta mendorong mereka untuk mengungkapkan keinginan dan emosi mereka. Sangat penting juga bagi orang tua atau pengasuh untuk memberi tahu anak mereka bahwa mereka aman dan diperhatikan, baik melalui tindakan maupun kata-kata. Orang tua atau pengasuh juga harus berhati-hati untuk tidak membuat anak merasa malu jika mereka membuat kesalahan atau merasa takut. Sebaliknya, mereka harus menenangkan dan memberi kenyamanan kepada anak mereka sebanyak mungkin ketika anak tersebut merasa tertekan atau takut.

Jika orang tua atau pengasuh merasa kesulitan dalam mengasuh anak dan mencurigai bahwa mereka mungkin tidak selalu memenuhi kebutuhan emosional anak mereka, mereka sebaiknya mencari bantuan dari profesional kesehatan mental yang memiliki spesialisasi dalam bekerja dengan orang yang menghadapi masalah tersebut. Siapa pun yang memiliki kekhawatiran tentang bagaimana perkembangan anak mereka, termasuk gaya keterikatan mereka, juga dapat merasa terbantu dengan berbicara dengan dokter anak atau psikolog anak.

Cara Mengatasi Avoidant Attachment

Terapi atau konseling dapat bermanfaat baik untuk anak dengan gaya keterikatan avoidant maupun orang tua atau pengasuh mereka. Seorang terapis dapat membantu orang tua atau pengasuh memahami bagaimana perilaku mereka mungkin memengaruhi anak mereka dan membimbing mereka menuju cara baru dalam berinteraksi dengan anak dan merespons kebutuhan mereka. Terapis juga dapat bekerja dengan anak untuk membantu mereka membentuk ikatan yang lebih sehat dengan orang tua atau pengasuh mereka.

Orang dewasa dengan keterikatan avoidant juga dapat memperoleh manfaat dari terapi. Terapis atau konselor dapat membantu orang tersebut memahami bagaimana orang tua atau pengasuh mereka merespons kebutuhan mereka selama masa kanak-kanak dan bagaimana hal ini dapat membentuk perasaan atau perilaku mereka saat ini. Terapis kemudian dapat menyarankan metode untuk membantu orang tersebut mengatasi perilaku atau perasaan negatif.

Keterikatan avoidant adalah salah satu dari empat gaya keterikatan yang berkembang selama masa kanak-kanak. Keterikatan avoidant terjadi ketika bayi atau anak tidak secara konsisten menerima perhatian dan perawatan yang mereka butuhkan untuk mengembangkan hubungan yang sehat dengan orang tua atau pengasuh mereka.

Gaya keterikatan avoidant dapat menyebabkan anak menyembunyikan perasaan mereka dan menjadi emosional jarak dari orang tua atau pengasuh mereka. Namun, anak tersebut tetap ingin dekat dengan orang tersebut dan merasakan kecemasan batin ketika mereka terpisah. Orang dewasa dengan keterikatan avoidant mungkin kesulitan membentuk hubungan yang dekat akibat sangat mandiri dan cenderung tidak mencari dukungan atau bantuan dari orang lain. Seseorang yang khawatir bahwa mereka atau anak mereka mungkin memiliki keterikatan avoidant sebaiknya berkonsultasi dengan terapis atau dokter.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading