Fimela.com, Jakarta Pernahkah kamu membayangkan cinta yang bukan sekadar percikan api yang menyala-nyala, melainkan bara api yang hangat dan konstan? Itulah pragma, sebuah jenis cinta yang mungkin tak se-glamour cinta dalam film-film romantis, tapi justru di situlah letak keindahannya.
Pragma adalah cinta yang tumbuh dari waktu, dari berbagi kehidupan sehari-hari, dari keintiman yang tenang dan tanpa demonstrasi berlebihan. Bukan cinta kilat yang penuh gairah, melainkan cinta yang dalam dan berkelanjutan, seperti pohon besar yang akarnya tertanam kuat di tanah.
Advertisement
Memahami Pragma: Lebih dari Sekadar Kebiasaan
Dalam dunia yang dibanjiri romansa dramatis dan pernyataan cinta yang bombastis, pragma mungkin tampak sederhana. Namun, jangan salah, cinta jenis ini memiliki kedalaman yang luar biasa. Pragma bukan sekadar cinta yang tumbuh dari kebiasaan, melainkan keintiman yang terbangun dari saling memahami, menghargai, dan menerima kekurangan satu sama lain. Bayangkan sebuah hubungan yang dijalin bukan karena puppy love atau hasrat sesaat, melainkan karena rasa nyaman, saling percaya, dan komitmen yang kuat. Itulah inti dari pragma.
Berbeda dengan eros yang penuh gairah atau ludus yang cenderung main-main, pragma adalah tentang membangun fondasi yang kokoh. Ini adalah cinta yang dibangun perlahan-lahan, batu bata demi batu bata, seiring berjalannya waktu. Ini tentang saling mendukung, melewati badai bersama, dan menemukan kedamaian dalam kesederhanaan hubungan.
Keindahan Cinta yang Tenang
Keindahan pragma terletak pada kenyamanannya. Ini adalah jenis cinta yang tak perlu diumbar dengan kata-kata manis yang berlebihan atau demonstrasi afeksi yang mencolok. Cinta ini terpancar dari tindakan-tindakan kecil, seperti secangkir kopi yang disiapkan di pagi hari, pelukan hangat di malam hari, atau dukungan tanpa syarat saat menghadapi kesulitan. Ini adalah cinta yang nyata, tanpa embel-embel, dan justru karena kesederhanaannya, cinta ini terasa begitu berharga dan abadi.
Advertisement
Membangun Pragma dalam Hubungan
Membangun cinta pragma membutuhkan kesabaran, komunikasi yang terbuka, dan komitmen yang kuat. Ini bukan tentang menunggu cinta itu datang dengan sendirinya, melainkan tentang secara aktif membangun hubungan yang sehat dan berkelanjutan. Saling mendengarkan, menghargai pendapat satu sama lain, dan menyelesaikan konflik dengan bijak adalah kunci untuk menumbuhkan pragma.
Jangan salah mengartikan pragma sebagai cinta yang hambar atau membosankan. Justru sebaliknya, cinta ini memiliki kedalaman dan kehangatan yang tak tertandingi. Ini adalah tentang menemukan kedamaian dan kebahagiaan dalam keintiman yang tenang dan penuh makna. Ini adalah tentang menemukan belahan jiwa yang memahami kamu apa adanya, tanpa perlu berpura-pura atau berusaha menjadi seseorang yang bukan dirimu.
Cinta yang Abadi
Dalam era serba cepat dan instan ini, pragma menawarkan alternatif yang menyegarkan. Ini adalah pengingat bahwa cinta sejati bukan tentang percikan api yang menyala-nyala, melainkan tentang bara api yang hangat dan konstan, yang terus menyala seiring berjalannya waktu. Ini adalah cinta yang abadi, yang tumbuh semakin kuat dan dalam seiring bertambahnya usia dan pengalaman bersama.
Jadi, jika kamu mencari cinta yang abadi dan penuh makna, jangan ragu untuk mengeksplorasi keindahan pragma. Ini adalah jenis cinta yang mungkin tak se-glamour seperti yang digambarkan dalam dongeng, tetapi justru karena kesederhanaannya, cinta ini terasa begitu berharga dan istimewa. Ini adalah cinta yang tumbuh dari waktu, dari berbagi kehidupan, dan dari keintiman yang tenang dan penuh kasih sayang.