Sukses

Parenting

Terlalu Keras, Ini Dampak Strict Parents yang Dapat Menghambat Kecerdasan Anak

Fimela.com, Jakarta Setiap orangtua tentu ingin yang terbaik bagi anaknya, termasuk dalam hal pendidikan dan perkembangan kecerdasan. Demi memastikan anak tumbuh menjadi pribadi yang disiplin dan sukses, banyak orangtua menerapkan pola asuh yang ketat, atau yang dikenal dengan istilah strict parenting. Pola asuh ini ditandai dengan aturan yang tegas, ekspektasi tinggi, serta kontrol ketat terhadap kehidupan anak. Tidak jarang, orangtua yang menerapkan strict parenting cenderung membatasi kebebasan anak dalam mengambil keputusan, menuntut kepatuhan penuh, dan memberlakukan hukuman jika aturan dilanggar.

Sekilas, disiplin yang tinggi dalam strict parenting tampak seperti cara yang efektif untuk membentuk anak yang bertanggung jawab dan berprestasi. Namun, apakah benar semakin ketat aturan, semakin cerdas anak? Faktanya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa pola asuh yang terlalu kaku justru dapat berdampak negatif pada perkembangan intelektual dan emosional anak.

Sebuah studi dari University of Pittsburgh menemukan bahwa anak-anak yang dibesarkan dengan pola asuh otoriter—yang merupakan bagian dari strict parenting—lebih cenderung mengalami kecemasan dan depresi, yang pada akhirnya dapat menghambat perkembangan kognitif mereka. Sementara itu, penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Child and Family Studies menunjukkan bahwa anak-anak dengan orangtua yang sangat ketat memiliki kemampuan berpikir kritis dan problem-solving yang lebih rendah dibandingkan anak-anak yang diberikan kebebasan bereksplorasi. Ini karena strict parenting sering kali menanamkan rasa takut dalam diri anak, membuat mereka ragu untuk mengambil inisiatif dan bereksperimen dengan ide-ide baru.

Selain itu, penelitian lain yang dilakukan oleh Harvard University menemukan bahwa anak-anak yang dibesarkan dengan pendekatan strict parenting cenderung mengalami kesulitan dalam membangun keterampilan sosial dan kreativitas. Ketika anak-anak selalu diawasi dengan ketat dan tidak diberi kesempatan untuk mandiri, mereka kehilangan kesempatan untuk mengembangkan keterampilan berpikir fleksibel, yang merupakan salah satu aspek utama dari kecerdasan.

Di era yang serba dinamis ini, kecerdasan bukan hanya diukur dari nilai akademik, tetapi juga dari kemampuan berpikir kreatif, memecahkan masalah, dan beradaptasi dengan lingkungan yang terus berubah. Sayangnya, strict parenting sering kali membatasi ruang gerak anak untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan tersebut. Jika seorang anak tumbuh dalam ketakutan dan tekanan, apakah mereka benar-benar bisa berkembang secara optimal?

Melansir psychcentral.com, dalam artikel ini, akan dibahas lebih dalam mengenai bagaimana strict parenting dapat berdampak buruk pada kecerdasan anak, mengapa pola asuh ini lebih mirip seperti “penjara” daripada bentuk disiplin yang sehat, serta bagaimana orangtua dapat menemukan keseimbangan antara aturan dan kebebasan agar anak bisa tumbuh menjadi individu yang cerdas, mandiri, dan percaya diri.

Perbedaan Antara Disiplin dan Strict Parenting

Banyak orangtua menganggap bahwa disiplin sehat dan strict parenting adalah dua hal yang sama, padahal keduanya memiliki perbedaan mendasar. Disiplin sehat bertujuan untuk membimbing anak agar memahami konsekuensi dari tindakan mereka, sedangkan strict parenting lebih berfokus pada kepatuhan mutlak tanpa ruang diskusi. Dalam disiplin sehat, anak diberikan pemahaman tentang sebab-akibat dari tindakan mereka, bukan sekadar diminta patuh. Sebaliknya, strict parenting menuntut anak untuk selalu mengikuti aturan tanpa banyak pertanyaan, sering kali tanpa penjelasan yang jelas dari orangtua mengenai alasan di balik aturan tersebut.

Selain itu, disiplin sehat lebih fleksibel dan disesuaikan dengan kondisi serta perkembangan anak. Orangtua tetap tegas, tetapi mereka juga mempertimbangkan pendapat dan kebutuhan anak. Sebaliknya, strict parenting cenderung kaku, di mana aturan yang diterapkan bersifat mutlak dan tidak dapat dinegosiasikan. Misalnya, dalam disiplin sehat, jika anak terlambat pulang, orangtua akan mendiskusikan alasannya dan mencari solusi agar tidak terulang. Namun, dalam strict parenting, keterlambatan sering kali mengakibatkan anak langsung dihukum tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan.

Cara memberikan hukuman juga menjadi pembeda utama. Dalam disiplin sehat, hukuman bersifat edukatif, seperti memberikan konsekuensi logis atau meminta anak memperbaiki kesalahannya. Sementara itu, strict parenting sering kali menggunakan hukuman yang keras, seperti ancaman, bentakan, atau bahkan hukuman fisik, yang justru dapat menimbulkan rasa takut dan menghambat perkembangan mental anak. Hal ini berdampak pada kecerdasan anak, di mana disiplin sehat membantu mereka berpikir kritis, memahami konsekuensi, dan mengambil keputusan secara mandiri, sementara strict parenting membuat anak takut mengambil risiko, membatasi kreativitas, dan menurunkan kemampuan berpikir kritis karena mereka hanya terbiasa mengikuti perintah tanpa mempertimbangkan alasannya.

Dari segi hubungan antara orangtua dan anak, disiplin sehat membangun komunikasi yang terbuka, di mana anak merasa nyaman untuk berdiskusi dan mengungkapkan pendapatnya. Sebaliknya, strict parenting menciptakan hubungan yang lebih didominasi oleh rasa takut, sehingga anak cenderung menyembunyikan masalahnya karena khawatir dimarahi atau dihukum. Oleh karena itu, banyak pakar psikologi anak merekomendasikan pendekatan otoritatif, yang merupakan kombinasi antara disiplin sehat dan kasih sayang. Dengan pola asuh ini, orangtua tetap memberikan aturan yang jelas tetapi juga mendukung anak untuk berkembang secara mandiri, berpikir kritis, dan berani mengambil keputusan. Dengan memahami perbedaan ini, orangtua dapat lebih bijak dalam menerapkan pola asuh yang tidak hanya menciptakan anak yang disiplin, tetapi juga cerdas dan percaya diri.

Dampak Negatif Strict Parenting

Ilmu pengetahuan telah menemukan bahwa strict parenting tidak hanya memengaruhi perkembangan emosional anak, tetapi juga berdampak negatif pada kecerdasan dan kemampuan berpikir mereka. Pola asuh ini, yang sering kali menekankan kepatuhan mutlak tanpa diskusi, dapat menghambat perkembangan keterampilan kognitif anak, mengurangi kepercayaan diri, serta membuat mereka kurang siap menghadapi tantangan kehidupan. Berikut adalah beberapa dampak negatif dari strict parenting:

1. Prestasi Akademik yang Lebih Rendah

Banyak orangtua yang menerapkan pola asuh ketat percaya bahwa dengan menekan anak untuk selalu mengikuti aturan dan belajar keras, mereka akan mencapai prestasi akademik yang lebih tinggi. Namun, penelitian menunjukkan hasil yang sebaliknya.

Dalam budaya Barat, pola asuh otoriter justru dikaitkan dengan performa akademik yang lebih rendah dibandingkan dengan pola asuh otoritatif. Hal ini disebabkan oleh kurangnya dorongan intrinsik pada anak untuk belajar. Ketika anak hanya belajar karena takut dihukum atau dimarahi, bukan karena dorongan ingin tahu dan semangat eksplorasi, mereka cenderung kesulitan memahami materi secara mendalam.

Anak-anak dengan strict parenting juga mengalami tekanan mental yang lebih tinggi saat menghadapi ujian atau tugas sekolah. Akibatnya, mereka sering mengalami “mental block” atau kesulitan berpikir jernih di bawah tekanan, yang pada akhirnya berdampak negatif terhadap hasil akademik mereka.

2. Kepuasan Hidup yang Lebih Rendah

Kecerdasan anak tidak hanya diukur dari kemampuan akademiknya, tetapi juga dari kesejahteraan emosionalnya. Anak yang tidak bahagia cenderung mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi, berpikir kreatif, dan memecahkan masalah.

Sebuah penelitian yang dilakukan di 10 negara menunjukkan bahwa pola asuh otoriter memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap kepuasan hidup anak-anak. Anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang penuh dengan tekanan dan aturan ketat merasa kurang memiliki kendali atas hidup mereka. Akibatnya, mereka tumbuh menjadi individu yang tidak percaya diri, kurang optimis terhadap masa depan, dan sering merasa tertekan.

Ketika anak merasa tidak puas dengan hidupnya, mereka juga kehilangan motivasi untuk mengembangkan keterampilan baru atau mengejar minat akademik yang lebih luas, yang pada akhirnya menghambat perkembangan kecerdasan mereka.

3. Meningkatkan Kecemasan dan Depresi

Berbagai penelitian telah menemukan bahwa strict parenting berhubungan erat dengan tingkat kecemasan dan depresi yang lebih tinggi pada anak. Ketika anak selalu berada dalam tekanan untuk memenuhi ekspektasi orangtua yang tinggi dan tidak diberi ruang untuk mengekspresikan perasaan mereka, mereka bisa mengalami stres kronis.

Stres yang berkepanjangan dapat menghambat perkembangan otak, terutama di area yang bertanggung jawab untuk pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Penelitian juga menunjukkan bahwa hormon kortisol, yang meningkat akibat stres, dapat mengganggu fungsi memori dan konsentrasi anak, yang berdampak negatif terhadap kecerdasan mereka.

Selain itu, anak-anak yang terus-menerus dikritik atau dihukum karena kesalahan kecil cenderung mengalami “fear of failure”, yaitu ketakutan berlebihan untuk gagal. Akibatnya, mereka enggan mencoba hal baru atau mengambil risiko, yang merupakan keterampilan penting dalam berpikir inovatif dan berkembang secara intelektual. 

 

4. Kesulitan dalam Membuat Keputusan

Kemandirian dalam berpikir dan mengambil keputusan adalah salah satu aspek penting dalam kecerdasan anak. Sayangnya, anak yang dibesarkan dengan pola asuh ketat sering kali kesulitan dalam hal ini.

Menurut penelitian tahun 2006 mengenai pola asuh di budaya Asia, anak-anak dengan orangtua yang ketat cenderung memiliki harga diri yang lebih rendah. Mereka terbiasa dengan kontrol yang ketat dan selalu mencari persetujuan dari orangtua sebelum mengambil keputusan. Akibatnya, mereka kesulitan untuk berpikir secara mandiri dan tidak percaya pada kemampuan mereka sendiri.

Selain itu, harga diri yang rendah juga dikaitkan dengan kurangnya empati dan keterampilan sosial, sebagaimana ditemukan dalam studi tahun 2020. Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh aturan ketat sering kali kurang mampu memahami perspektif orang lain, yang membuat mereka lebih sulit beradaptasi dalam situasi sosial atau bekerja dalam tim. Hal ini dapat menghambat perkembangan kecerdasan emosional, yang merupakan salah satu faktor utama dalam kesuksesan akademik dan profesional.

5. Intensitas Konflik yang Lebih Tinggi

Anak-anak yang dibesarkan dengan banyak aturan ketat cenderung mengalami konflik yang lebih sering dan lebih intens dengan orangtua mereka. Penelitian di Tiongkok menemukan bahwa remaja melaporkan tingkat konflik yang lebih tinggi dengan orangtua yang menerapkan pola asuh otoriter atau tidak terlibat.

Konflik yang terus-menerus ini dapat menciptakan suasana rumah yang tidak kondusif bagi perkembangan intelektual anak. Ketika anak sering berada dalam situasi tegang atau bertengkar dengan orang tua, fokus dan energi mental mereka lebih banyak terkuras untuk mengelola emosi daripada untuk belajar atau berpikir kreatif.

Selain itu, anak yang merasa dikekang sering kali memberontak dengan cara negatif, seperti malas belajar, berbohong, atau bahkan mencari pelarian ke lingkungan yang tidak sehat. Ini bukan hanya berdampak pada kecerdasan mereka, tetapi juga pada masa depan akademik dan sosial mereka.

Strict parenting mungkin dimaksudkan untuk mendisiplinkan anak, tetapi jika dilakukan secara berlebihan, justru dapat memberikan dampak negatif yang serius terhadap kecerdasan dan perkembangan emosional mereka. Dari prestasi akademik yang lebih rendah, meningkatnya kecemasan dan depresi, hingga kesulitan dalam mengambil keputusan, semua ini menunjukkan bahwa pola asuh yang terlalu ketat bukanlah solusi terbaik untuk membentuk anak yang cerdas dan sukses.

Sebagai gantinya, orangtua dapat mempertimbangkan pendekatan yang lebih seimbang, seperti pola asuh otoritatif, yang menggabungkan aturan yang jelas dengan komunikasi yang terbuka dan dukungan emosional. Dengan begitu, anak tidak hanya akan tumbuh menjadi individu yang disiplin, tetapi juga memiliki rasa percaya diri, kemandirian, serta kemampuan berpikir kritis yang kuat.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading